Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Editorial » Italia: Catennaccio Bukanlah Dosa

Italia: Catennaccio Bukanlah Dosa

(502 Views) Juli 8, 2016 8:23 pm | Published by | No comment

Champions.id, Malang – Banyak jalan menuju Roma. Banyak juga bus yang tersedia. Begitu juga sopirnya. Tergantung kita mau pilih yang mana. Apa kita mau pilih naik bus keluaran terbaru.

Eksterior dan interior mewah. Fasilitas no 1. Rute yang dijalani lewat perbukitan indah. Naik turun lewati lembah. Sungai mengalir indah ke samudera. Bersama teman bertualang….hehe

Atau pilih bus lawas yang hampir ringsek. Eksterior dan interior ketinggalan jaman. Lewat jalur alternatif yang berkelok, jalan berbatu dan tak rata pula.

Mungkin itu kalimat yang bisa mewakili untuk menggambarkan ‘perdebatan’ antara sepakbola menyerang dan bertahan. Baik di level klub ataupun tim nasional.

Di level klub, tim ‘bermadzab’ bertahan macam Atletico Madrid, Chelsea atau bahkan Juventus akan dianggap ‘sesat’ oleh para penganut ‘madzab’ sepakbola menyerang nan indah -termasuk Coach Justin- macam Barcelona, Real Madrid atau Bayern Munchen.

Di level negara, dua kutub tersebut akan sangat kentara saat kita menyebut nama Spanyol dan Italia.

Para penggemar Spanyol dan negara yang ‘bermadzab’ menyerang lainnya, akan mendewakan cara mereka bermain lewat tiki-taka. Possesion ball adalah keniscayaan.

Bagi mereka, sepakbola adalah keindahan. Bagaimana memulai penyerangan dari bek tengah, mengalirkan bola ke lini tengah hingga melakukan tusukan ke jantung pertahanan area lawan dengan umpan pendek segitiga yang bertempo cepat.

Sedangkan bagi para tifosi Azzuri -julukan Italia-, sepakbola adalah tentang hasil akhir. Persetan dengan ball possesion.

Selama bisa menjebol gawang lawan dan memastikan gawang kita aman, Italia akan melenggang. Mereka menyebutnya dengan catenaccio atau pertahanan grendel.

Lantas, siapa yang benar?

Sepakbola bukan tentang siapa yang benar atau siapa yang salah.

Kedua ‘madzhab’ di atas adalah cara kita melihat peluang untuk memenangkan pertandingan.

Visi pelatih, karakter dan kedalaman skuat serta kualitas calon lawan adalah beberapa faktor yang bisa menentukan gaya bermain yang dipilih.

Ambil contoh ter-update, pertandingan perdelapan besar Piala Eropa 2016 (28/6) WIB yang secara mengejutkan (atau kebetulan) mempertemukan penganut dua kutub yang berbeda, Italia dan Spanyol.

Italia yang diluar prediksi keluar sebagai pemuncak Grup E diatas Belgia, Rep Irlandia dan Swedia, harus bertemu dengan Spanyol yang juga secara mengejutkan finis runner-up di Grup D dibawah Kroasia.

Partai ulangan final EURO 2012 kembali terjadi.

Para pengamat, fans layar kaca, fans karbitan sampai bursa taruhan, kompak menggungulkan Spanyol menang atas Italia. Meski dengan skor tipis. Mungkin termasuk kalian yang sedang baca tulisan ini.

Sangat wajar!

Juara Piala Eropa 2008, Piala Dunia 2010 dan Piala Eropa 2012 adalah bukti sahih betapa Spanyol telah mengangkangi dan mendominasi turnamen sepakbola terbaik di kolong jagat.

Apalagi dalam skuad Spanyol saat ini banyak bercokol nama-nama tenar dari klub terbaik dunia (jika dilihat dari capaian trofi) Real Madrid, Barcelona dan Atletico Madrid.

Derby Madrid di Final Liga Champions 2016 antara Real vs Atletico adalah bukti terakhir kedigdayaan klub-klub Negeri Matador.

Bagaimana dengan Italia?

Berangkat ke Perancis dengan keraguan banyak pihak, Conte ingin membuktikan bahwa pasukannya tidak layak dipandang sebelah mata.

Dari segi kebintangan, hanya Gianluigi Buffon yang menyandang predikat world class. Lainnya? Trio BBC; Barzagli, Bonucci dan Chiellini serta Daniele de Rossi mungkin nama yang bisa mendekati level Buffon.

Sedangkan nama macam Eder, Pelle, Zaza atau Giaccherini adalah nama-nama pemain medioker yang sulit kita ingat (atau memang tak ada) prestasi level dunianya.

Tak ayal, keberangkatan penggawa Gli Azzuri diberi embel-embel ‘skuat pas-pasan’.

Bagaimanakah hasil dari pertarungan skuat penuh bintang dengan skuat medioker bin pas-pasan?

Mata para komentator bola terbelalak. Fans layar kaca hanya bisa melongo. Apalagi fans karbitan…

Mungkin hanya rumah bursa taruhan dan tifosi Gli Azzuri yang bersorak gembira. Italia berhasil membalikkan prediksi dengan mengalahkan Spanyol 2-0 lewat gol Chiellini dan Graziano Pelle.

Tiki-taka yang tidak berjalan sempurna dihajar oleh pressing ketat ala Italia. Catatan possesion ball Spanyol versi Squawka sebesar 57% terasa mubazir seiring mandulnya lini depan El Matador.

Nolito, Morata, Aduriz hingga Vazquez tidak mampu menembus benteng tangguh Italia.

Allenatore Italia, Antonio Conte layak mendapatkan kredit atas keberhasilan taktiknya. Persis seperti yang dilakukan saat melawan Belgia, Italia bermain dengan formasi dasar 3-5-2. Formasi ini akan berubah menjadi 5-3-2 ketika bertahan.

Trio BBC bersama Buffon dijadikan fondasi permainan oleh Conte. Hal ini sangat wajar karena empat pemain ini bersama Conte pernah 3 tahun bersama meraih kesuksesan di Juventus.

Conte lebih mengedepankan soliditas bertahan dan menyerang, membuka ruang dan efektifitas penyerangan daripada skill individu pemainnya.

Kejeniusan Conte ini bukan hasil bertapa 40 malam di Gunung Merapi, tapi hasil didikan Coverciano. Seperti dikutip dari Mixzone.co, saat Conte sekolah disana pada 2006, dia menuliskan tesis tentang transformasi taktik berjudul Considerazioni Sul 4 3 1 2 ed Uso Didattico del Video.

Selain itu, Conte akrab dengan formasi tiga bek kala masih menjadi pemain aktif. Saat merumput di Juventus pada 1992-2004, Conte yang acap kali dipasang Lippi sebagai gelandang bertahan, bermain di depan trio Paolo Montero, Ciro Ferrara dan Mark Iuliano.

Satu lagi, karakter Conte yang keras, disiplin, determinasi tinggi dan haus kemenangan coba ditularkan ke dalam skuat Gli Azzurri di Perancis saat ini.

Sebagai bukti, pada pertandingan melawan Spanyol, Pelle sampai berkorban berperan sebagai ‘gelandang bertahan’ saat Italia digempur Iniesta dkk.

Meskipun gagal melaju ke babak semifinal, terbukti ramuan catenaccio Italia versi Conte sangat mujarab! Bagaimana menurutmu Coach Justin?

This post was written by Chandra Kusuma
About

Mantan bakal calon pemain tarkam yang sedang belajar menulis seputar sepakbola, khususnya Serie-A, English Premiere League dan ISC. Pecinta Liga Italia dan jadi Juventini sejak Juve raih scudetto ke 23. Bisa ditemui di @artakusuma23