Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Editorial » Lelaki itu Akhirnya Menyerah!

Lelaki itu Akhirnya Menyerah!

(483 Views) Juli 8, 2016 8:15 pm | Published by | No comment

Lionel Messi Usai Final Copa America 2016

Champions.id, Malang – “Rasanya tidak adil. Tidak adil. Menyesakkan sekali!”. Lelaki itu menghela napas dan melihat ke arah segerombolan orang berbaju merah yang bersorak kegirangan.

Ia kemudian berjalan melewati sebuah trofi dan menatap tajam trofi tersebut. Terlihat sekali tatapan penuh harap darinya. Sejenak kemudian, butiran air keluar dari matanya.

Ia menangis. Sementara rekan-rekan di sekelilingnya coba menenangkan.

“Aku tahu kau telah mengerahkan segalanya, namun kau harus sabar. Bagaimana pun, kau tetap akan menjadi yang terbaik,” hibur rekannya.

“Aargggh!” Dilepasnya medali yang sebelumnya sempat menggantung di lehernya. Lalu ia lemparkan. Medali yang ia lemparkan tadi nyaris mengenai orang-orang yang berada di sekitarnya.

Leo Messi

Ia hampir tak sadar. Malam itu, keadaan hatinya sedang tak baik. Tangisnya kemudian semakin menjadi-jadi.
Lelaki itu menuju ke sebuah mobil dan pulang ke rumahnya.

Keesokan harinya, ia membuat sebuah surat terbuka perihal segala yang ia rasakan selama ini.

Rasanya tidak adil kalau semua hal menyesakkan selama beberapa tahun belakangan ini menimpaku. Benar-benar tak adil.

Kau tahu? Aku telah mendapatkan segala hal yang mungkin diimpikan semua pemain di seluruh dunia.

Bayaran yang mahal, trofi yang tak bisa ku ingat jumlahnya, hingga gelar pemain terbaik dan top skor yang berulang kali ku raih.

Setelah semua yang menimpaku di empat partai puncak ini, itu seolah-olah tak ada artinya.

Aku mampu mencetak banyak gol di setiap musimnya. Kau tahu? Gol-gol yang aku ciptakan bukan sembarang gol. Aku selalu membuatnya dengan cara yang spektakuler.

Tendangan bebas, sundulan, kaki kiri, kaki kanan, dada, hingga mencetak gol dengan tangan pun pernah aku lakukan.

Ingat saat aku mencetak gol untuk memotori kemenangan Barcelona atas Bayern beberapa musim lalu. Aku mengelabuhi dan menjatuhkan Jerome Boateng tanpa menyentuhnya.

Kau tahu siapa dia? Salah satu bek terbaik di dunia! Ingat juga saat aku melewati empat pemain Atletico Bilbao di final Piala Raja. Kurang apa lagi?

Seperti yang kau dan media-media gemborkan, aku juga pernah merasa bahwa aku ini berasal dari dimensi lain. Aku pernah merasa kalau aku seorang alien. Tentunya karena sederet magis yang pernah aku lakukan.

Namun, itu rasanya tidak ada arti. Aku tahu dan aku yakin publik Argentina berharap banyak dari tuah magisku. Dari kemampuan individualku. Sebab aku punya hal itu. Sebab aku memiliki semua kemampuan itu. Sebab aku memenuhi kualifikasi itu.

Tapi apa daya. Aku tak bisa memenuhi semua harapan berat yang menancap tajam di pundakku. Pada 2007, aku gagal. Pada 2014 dan 2015 pun aku gagal.

Dan, kemarin malam, untuk ke empat kalinya aku gagal membawa negaraku Argentina berjaya di final. Tiga di Copa America, satu di Piala Dunia. Tak ada yang ku menangkan. Tak ada piala yang berhasil ku sentuh.

Dalam empat final itu aku hanya bisa berjalan di sisi piala itu dan menatap tajam penuh harap. Empat final dan tiga di antaranya terjadi secara beruntun. Sakit sekali.

Aku sempat berpikir, apakah seorang alien tidak diperbolehkan mengangkat piala tersebut? Apakah seorang alien tidak pantas menyentuhnya?

Kalau pun aku masih seorang manusia, aku pasti punya dosa yang teramat besar.

Semua ini semakin diperparah dengan media yang selalu membandingkanku dengan capaian Diego Maradona, legenda Argentina yang berhasil meraih gelar Piala Dunia itu.

Ya, mungkin Maradona memang lebih hebat dariku. Toh, dia seorang ‘Tuhan’. Jadi mungkin dia lebih pantas dan lebih layak daripada aku.

Hari ini, aku merasa masaku bersama Argentina telah berakhir. Timnas Argentina bukan untukku. Ini adalah final keempat. Dan aku telah mengambil keputusan, aku pikir seperti itu.

Kemenangan adalah sesuatu yang paling aku inginkan, tapi itu tak kunjung datang. Ini merupakan sebuah kesedihan yang teramat besar.

Melalui surat terbuka ini, beritahukan kalau karierku di tim nasional telah berakhir. Timnas Argentina bukanlah untukku.

Maaf atas segalanya. Maaf atas piala yang tidak pernah bisa aku berikan. Dan, maaf atas kegagalan pinalti tadi malam. Terima kasih.

Lionel Messi After Penalty Kicks vs Chile

Masih dengan rasa sakit dan tangis pasca kejadian memilukan itu, ia menutup suratnya. Air langit pun berjatuhan seolah mengerti perasaan lelaki tersebut. Ia kemudian berjalan menuju kamar tidurnya lalu terlelap.

Mungkin, lega sudah keluar dari dirinya melalui surat itu.

Dia Lionel Messi, dan hari itu dia menghilang. Dia selesai. Dengan segala standar tinggi yang diterapkan padanya, dia menyerah. Dia merasa kariernya di Argentina sudah berakhir.

Sebagai catatan, penulis mendapat inspirasi membuat tulisan ini setelah membaca cerpen karya seorang teman di blog miliknya.

This post was written by Angga Septiawan Putra
About

M. Angga Septiawan Putra, mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad pencinta Bayern Munchen. Beredar di dunia virtual dengan akun @sptwn_