Menu Click to open Menus
TRENDING
Home » Editorial » Serie A: Rindu Kejayaan dan Bandana

Serie A: Rindu Kejayaan dan Bandana

(1541 Views) Agustus 12, 2016 6:29 pm | Published by | No comment

Champions.id, Malang – Jika kita bertanya kepada generasi ’90-an, liga sepakbola negara mana yang paling favorit? Jawaban mereka pasti tidak akan jauh dari nama Italia.

Ya, era awal 90-an adalah sebuah masa keemasan bagi sepakbola Negeri Pizza, Italia. Ada dua frasa yang bisa mewakili: jaya di lapangan dan jaya di udara. Jago di atas lapangan dan populer ke seluruh dunia, salah satunya negeri kita, Indonesia.

Kita biasa menyebutnya Lega Calcio. Kejayaan Italia ini sangat mungkin berkaitan erat dengan 1 barang: tali rambut atau bandana!

Apa hubungannya?

***

Italia, sebuah negara di selatan Eropa yang ‘dari sononya’ seperti sudah ditakdirkan menjadi salah satu negeri sepakbola. Mau bukti? Coba ambil peta atau buka mesin pencari. Coba perhatikan bentuk geografis Italia.

Peta Italia

Turin dan Milan sebagai otot paha. Roma sebagai lutut dan Naples sebagai tulang kering. Bolanya? Pulau Sisilia. Seperti sebuah kaki yang sedang menendang bola bukan?

Fakta (atau kebetulan) yang menarik lainnya, tim-tim dari kota-kota tersebut adalah tim-tim besar Italia. Juventus, AC Milan, Internazionale, AS Roma, Lazio dan Napoli.

Mungkin hanya Palermo yang berdomisili di Pulau Sisilia yang belum bisa masuk kategori tim besar.

Jika tolok ukur yang digunakan adalah capaian di kompetisi terakbar di Benua Biru, Liga Champions Eropa dan pemain peraih Ballon d’Or, dekade 90-an hingga pertengahan 2000-an adalah masa keemasan sepakbola Liga Italia.

Tim-tim besar macam Juve atau Milan adalah representasi dari kedigdayaan sepakbola Italia.

AC Milan Juara Liga Champions 2003

Mari kita tengok daftar finalis Liga Champions (atau Piala Champions sebelum musim 1992-1993) dari awal 90-an hingga pertengahan 2000-an;

FINALIS LIGA CHAMPIONS 1989-2007
1989–90 AC Milan 1-0 Benfica
1990-91 Red Star 0-0 Marseille (Red Star menang penalti 5-3)
1991-92 Barcelona 1-0 Sampdoria
1992-93 Marseille 1–0 AC Milan
1993-94 AC Milan 4–0 Barcelona
1994-95 Ajax 1–0 AC Milan
1995-96 Juventus 1–1 Ajax (Juventus menang penalti 4-2)
1996-97 Borussia Dortmund 3–1 Juventus
1997-98 Real Madrid 1–0 Juventus
1998-99 Manchester United 2–1 Bayern Munich
1999-2000 Real Madrid 3–0 Valencia
2000-01 Bayern Munich 1–1 Valencia (Bayern menang penalti 5-4)
2001-02 Real Madrid 2–1 Bayer Leverkusen
2002-03 AC Milan 0–0 Juventus (AC Milan menang penalti 3-2)
2003-04 FC Porto 3–0 AS Monaco
2004-05 Liverpool 3–3 AC Milan
2005-06 Barcelona 2–1 Arsenal
2006-07 AC Milan 2–1 Liverpool

Dalam 18 tahun pergelaran Final Liga Champions antara musim 1989-1990 sampai 2006-2007, tim-tim asal Italia berhasil masuk menjadi finalis dalam 11 kali laga.

Bahkan dari musim 1992-1993 sampai musim 1997-1998, AC Milan dan Juventus bergantian mencatatkan hat-trick final secara berurutan. Bahkan pada musim 2002-2003 terjadi All Italian Final di Old Trafford, Manchester antara AC Milan dan Juventus.

Sedangkan dari indikator kedua yakni pemain peraih penghargaan Ballon d’Or, bisa kita lihat daftar berikut:

Ballon d’Or 1990-2007
1990 Lothar Matthäus  (Inter Milan)
1991 Jean-Pierre Papin (Marseille)
1992 Marco van Basten (AC Milan)
1993 Roberto Baggio  (Juventus)
1994 Hristo Stoichkov  (Barcelona)
1995 George Weah  (AC Milan)
1996 Matthias Sammer  (Borussia Dortmund)
1997 Ronaldo  (Inter Milan)
1998 Zinedine Zidane  (Juventus)
1999 Rivaldo  (Barcelona)
2000 Luís Figo (Real Madrid)
2001 Michael Owen  (Liverpool)
2002 Ronaldo  (Real Madrid)
2003 Pavel Nedvěd  (Juventus)
2004 Andriy Shevchenko  (AC Milan)
2005 Ronaldinho  (Barcelona)
2006 Fabio Cannavaro  (Real Madrid)
2007 Kaká  (AC Milan)

Roberto Baggio Ketika Berkostum Juventus Tahun 1995

Dari tahun 1990 hingga 2007 atau selama 18 tahun, pemain asal klub Itali berhasil meraih Ballon d’Or sebanyak 9 kali. Bahkan daftar ini akan bertambah jika kita masukkan nama Fabio Cannavaro.

Pascapiala Dunia 2006 Canna –panggilan akrab Cannavaro- adalah pemain Real Madrid. Tapi sejatinya kesuksesan meraih gelar Pemain Terbaik itu tak terlepas dari aksi impresifnya bersama Juventus dan timnas Italia pada musim 2005-2006.

Lantas, bagaimana kejayaan klub dan pemain dari tim-tim Italia ini bisa terjadi? Apa saja faktor yang melatarbelakangi?

Beberapa faktor bisa diajukan sebagai penyebab. Finansial klub, tim bertabur bintang dan pelatih jempolan. Pada akhir ’80-an hingga medio ’90-an, AC Milan adalah penguasa Italia. Marco van Basten, Ruud Gullit hingga George Weah adalah jaminan mutu.

Hingga kemudian Si Nyonya Tua Juventus dengan nahkoda Marcelo Lippi berhasil mengakhiri dominasi tim asuhan Fabio Capello tersebut.

***

Kembali ke pertanyaan di atas, apa hubungan antara era keemasan tim-tim Italia dengan tali rambut?

Coba ingat baik-baik nama berikut: Maldini, Cannavaro, Nesta, Buffon, Batistuta, Totti, Zamorano dan Salas (sebenarnya daftar ini masih panjang, tapi tidak mungkin disebutkan semuanya). Apakah ada persamaan diantara mereka?

Rambut Gondrong+Tali Rambut

Ya, rambut gondrong dan ikat rambut atau bandana. Era kejayaan Liga Italia secara kebetulan bersamaan dengan era keemasan tren gaya rambut tersebut. Ini seperti sebuah kebetulan yang menarik.

Jika kita bandingkan dengan era kekinian yang memuja gaya rambut undercut dan tubuh penuh rajah atau tato, rasanya era rambut gondrong dan bandana lebih gahar dan ‘lakik’!

Gaya rambut, seperti halnya model sepatu dan desain jersey, tentunya berpengaruh terhadap rasa percaya diri pemain di lapangan. Rasa percaya diri ini merupakan katalisator bagi peningkatan performa lewat skill yang menawan di lapangan.

Pesan moral: mumpung bursa transfer belum ditutup, segera beli pemain gondrong agar bisa mengembalikan kejayaan tim. Tertarik beli Joe Allen, Berlusconi?

This post was written by Chandra Kusuma
About

Mantan bakal calon pemain tarkam yang sedang belajar menulis seputar sepakbola, khususnya Serie-A, English Premiere League dan ISC. Pecinta Liga Italia dan jadi Juventini sejak Juve raih scudetto ke 23. Bisa ditemui di @artakusuma23